:: SELAMAT DATANG DI WEBSITE POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN SURABAYA :: UPDATE DATA PEGAWAI DI SIM-PEG POLTEKKES KEMENKES SURABAYA MULAI 13-30 JUNI 2016 OLEH PEGAWAI MASING2 DAN DIVALIDASI OLEH KOOR DAN KAUR KEPEGAWAIAN SBG PENANGGUNG JAWAB

27 Oktober 2011

Diabetes Melitus (DM) kini menjadi ancaman serius, penderitanya bukan hanya orang tua tapi juga anak-anak. Menurut data World Diabetes Foundation saat ini ada 844 ribu anak di Asia Tenggara yang menderita diabetes tipe 1 atau sekitar 24 persen dari populasi anak. Jumlah ini tertinggi di banding negara lain.

DM tipe 1 adalah kelainan sistemik yang terjadi akibat gangguan metabolisme glukosa yang ditandai dengan hiperglikemia kronik. Keadaan ini diakibatkan kerusakan sel penghasil insulin di pankreas yang bertugas menjaga keseimbangan gula darah dalam tubuh.

“Penyebab utamanya bukan karena keturunan, tapi penyakit autoimun atau pun infeksi virus,” kata dr.Erwin P.Soenggoro, Sp.A, ahli endokrin anak.

Pengelolaan penyakit ini menjadi penting karena penyakit ini menimbulkan komplikasi serius, bahkan kematian.

“Banyak kasus yang terjadi pasien tidak terdiagnosis dan kemudian terlambat mendapat penanganan. Kebanyakan pasien diterima dalam kondisi komplikasi berat sehingga harus masuk ICU atau bahkan meninggal,” paparnya dalam acara media edukasi mengengai Penanganan Komperhensif dan Intergratif dalam Manajemen Diabetes Tipe 1 di Jakarta (26/10/11).

Kendati penyakit ini belum ada obatnya, namun menurut dr.Antonius Putdjiadi, Sp.A, jika DM tipe 1 dikenali sejak dini dan dikelola dengan baik, kualitas hidup anak bisa setara dengan anak yang sehat.

“Ini berarti pasien harus rajin mengecek kadar gula darahnya dan menyuntikkan dosis insulin yang sesuai dengan kebutuhannya,” katanya dalam acara yang sama.

Sayangnya harga insulin di Indonesia terbilang mahal. Untuk 100 unit yang dipakai beberapa kali, pasien harus mengeluarkan uang Rp 200.000. Biaya tersebut belum termasuk jarum suntik, dan strip untuk mengecek gula darah. Diperkirakan setiap bulannya seorang penderita DM tipe 1 menghabiskan biaya sampai Rp 3,5 juta.

Apalagi diakui oleh Erwin sampai saat ini perhatian pemerintah terhadap harga insulin masih rendah. “Memang belum ada subsidi untuk obat insulin. Beberapa orangtua pasien juga mengeluhkan sulitnya mengurus Jamkesmas untuk penyakit ini,” katanya.

Terlepas dari biaya yang mahal, dia mengingatkan pentingnya mengontrol gula darah untuk mencapai target gula darah yang diinginkan. “Dengan demikian kemungkinan komplikasi yang terjadi juga bisa ditekan,” pungkasnya.

Sumber:

http://health.kompas.com

  • Share/Bookmark

Komentar ditutup

Copyright © 2011 Politeknik Kesehatan Departemen Kesehatan Surabaya · All Rights Reserved · Masuk log · Email