:: SELAMAT DATANG DI WEBSITE POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN SURABAYA :: UPDATE DATA PEGAWAI DI SIM-PEG POLTEKKES KEMENKES SURABAYA MULAI 13-30 JUNI 2016 OLEH PEGAWAI MASING2 DAN DIVALIDASI OLEH KOOR DAN KAUR KEPEGAWAIAN SBG PENANGGUNG JAWAB

1 Februari 2017

Dalam rangka peningkatan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), pemerintah telah mencanangkan Gerakan Nasional Kehamilan Yang Aman yaitu Making Pregnancy Safer (MPS) sebagai strategi pembangunan kesehatan masyarakat menuju Indonesia Sehat. Program ini berlangsung hingga saat ini dan merupakan bagian dari program Safe Motherhood. Kedua program ini memiliki tujuan yang sama yaitu melindungi hak reproduksi dan hak asasi manusia dengan cara mengurangi beban kesakitan, kecacatan dan kematian yang berhubungan dengan kehamilan dan persalinan yang sebenarnya tidak perlu terjadi.

Making Pregnancy Safer (MPS) merupakan strategi sektor kesehatan yang berfokus pada pendekatan perencanaan sistematis dan terpadu dalam melaksanakan intervensi klinis dan pelayanan kesehatan. Program ini dilaksanakan berdasarkan upaya-upaya yang telah ada dengan penekanan pada pentingnya kemitraan antara sektor pemerintah, lembaga pembangunan, sektor swasta, keluarga dan anggota masyarakat.

Hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) yang dilaksanakan pada Mei hingga Agustus 2012 menunjukkan Angka Kematian IBU (AKI) mencapai 359 per 100 ribu penduduk atau meningkat sekitar 57 persen bila  dibandingkan dengan kondisi pada 2007 yang hanya sebesar 228 per 100.000 penduduk. Selain AKI, Angka Kematian Bayi (AKB) masih jauh dari target MDG’s. SDKI 2012 menyebutkan , AKB 32 per 1000 kelahiran hidup, turun sedikit dibandingkan 2007, yaitu 34 per 1000 kelahiran hidup.

Dari data yang diverifikasi tim Dinkes Provinsi Jawa Timur tahun 2013 menunjukkan angka kematian ibu melahirkan meningkat  yakni mencapai 474 kasus ibu meninggal saat melahirkan.

Tingginya angka kematian ibu tersebut dipengaruhi oleh banyak faktor yang sangat kompleks. Faktor determinan kematian maternal tidak hanya dipengaruhi oleh faktor medis, melainkan juga faktor non medis seperti kondisi sosial budaya, ekonomi dan pendidikan. Salah satu faktor terbesar dari pengaruh-pengaruh tersebut adalah pendidikan seks dan kesehatan reproduksi serta bagaimana membuat hubungan seks yang dilakukan lebih aman. Dalam dunia ilmu kesehatan reproduksi, istilah tersebut lebih dikenal dengan Making Love Safer (Bercinta Lebih Aman).

Making Love Safer erat kaitannya dengan perilaku pasangan dan free seks. Di  Indonesia tercatat dari survei yang dilakukan BKKBN pada akhir 2008 menyatakan, 63 persen remaja dibeberapa kota besar di Indonesia melakukan seks pranikah. Dan para pelaku seks dini itu meyakini berhubungan seksual satu kali tidak menyebabkan kehamilan. (BKKBN, 2008)

Pergaulan bebas dikalangan remaja Indonesia saat ini memang sangatlah memprihatinkan. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyatakan sebanyak 32 persen remaja usia 14 hingga 18 tahun di kota-kota besar di Indonesia (Jakarta, Surabaya dan Bandung) pernah berhubungan seks. Hasil survei lain juga mengatakan, satu dari empat remaja indonesia melakukan hubungan seksual pranikah dan membuktikan 62,7 persen remaja kehilangan keperawanan saat masih duduk di bangku SMP, dan bahkan 21,2 persen diantaranya berbuat ekstrim, yakni pernah melakukan aborsi. Aborsi dilakukan sebagai jalan keluar akibat dari perilaku seks bebas (KPAI, 2010).

Dari data-data yang ada, HIMA Prodi Kebidanan Kampus Sutomo Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan Surabaya, turut serta dan peduli serta berpartisipasi dalam mengurangi masalah tersebut, dengan cara memberikan informasi dan pengetahuan kepada masyarakat seputar isu kesehatan reproduksi dan seks bebas yang dikemas dalam kegiatan Seminar Kebidanan Nasional dengan judul “Making Love Safer VS Making Pregnancy Safer (Bercinta Lebih Aman VS Kehamilan Lebih Aman)”.

Kegiatan seminar ini diselenggaran untuk memberikan informasi kepada masyarakat tentang hubungan seksual yang aman dengan kehamilan yang aman sehingga dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang peran IBI dalam Kesehatan Reproduksi Seksual Remaja, bagaimana bercinta yang sehat dan aman, serta persiapan pra nikah untuk mewujudkan kehamilan yang  aman.

Kegiatan seminar yang ditujukan bagi orang tua, remaja, tenaga kesehatan, maupun mahasiswa dengan jumlah peserta yang hadir sebanyak 688 peserta dilaksanakan hari Sabtu tanggal 28 Januari 2017 dimulai pukul 07.00-15.00 WIB di Conventional Hall Lantai 7 Gedung Diagnositic Center (GDC) RSUD Dr. Soetomo Surabaya.

Materi yang diberikan pada seminar tersebut antara lain “Peran IBI dalam Kesehatan Reproduksi” yang seharusnya diberikan oleh Dr. Emi Nurjasmi, M.Kes selaku Ketua Pengurus Pusat Ikatan Bidan Indonesia (IBI), namun dikarenakan ada kendala pada saat perjalan dari Jakarta sehingga penyampaian materi tersebut digantikan oleh Ibu Kasiati, S.Pd., M.Kes. selaku Wakil II Bidang Pendidikan IBI Jawa Timur sekaligus sebagai Ketua Jurusan Kebidanan dan Ketua AIPKIND Jawa Timur .

Kemudian materi “ Seksual Remaja”  disampaikan oleh dr. Susanto Suryaatmadja., MS., Sp.And. yang merupakan Dokter senior dari RSU Dr. Soetomo Surabaya dan beliau sering menjadi nara sumber acara seksologi di berbagai acara televisi. Beliau menjelaskan bahwa seiring perkembangan  jaman saat ini yang telah merubah budaya bangsa indonesia akibat maraknya masuknya budaya luar melalui media-media sosial telah banyak

Selanjutnya materi tentang “Persiapan pra nikah untuk mewujudkan kehamilan yang aman” disampaikan oleh dr. Muhammad Yusuf.,SpOG.

  • Share/Bookmark

Komentar ditutup

Copyright © 2017 Politeknik Kesehatan Departemen Kesehatan Surabaya · All Rights Reserved · Masuk log · Email